IntanPermatasari.com - Hari ini Sabtu, Tanggal 15 Januari 2022 penulis mengikuti agenda dari sekolah untuk mengikuti vaksin covid-19 untuk anak usia 6 - 11 tahun. Dalam rangka ikut mensukseskan program dari pemerintah untuk mengurangi angka kematian karena virus covid-19.


Foto

Vaksinasi Covid-19 untuk anak usia 6-11 tahun di Indonesia sudah dimulai Sejak Hari Selasa, Tgl. 14 Desember 2021. Pelaksanaan pada anak sebagai upaya tercapainya kekebalan tubuh, Dilakukan berdasarkan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor HK.01.07/MENKES/6688/2021 tentang Pelaksanaan Vaksinasi Covid-19 bagi Anak Usia 6-11 Tahun.

Kriteria Vaksin

Kriteria vaksin yang digunakan untuk kegiatan vaksinasi anak ini adalah vaksin Covid-19 yang telah mendapatkan persetujuan penggunaan di masa darurat (emergency use otorisasi) atau penerbitan izin edar (NIE) dari BPOM. Vaksin itu adalah vaksin Sinovac, sebagaimana disebutkan dalam unggahan Kementerian Kesehatan di akun Instagram @kemenkes_ri

Dosis

Dosis vaksinasi anak, Vaksin yang akan diberikan sebanyak dua kali dengan interval waktu minimal 28 hari menurut aturan pemerintah. Masing-masing dosis 0,5 ml. Dan hari ini Sabtu, Tanggal 15 Januari 2022 penulis menerima dosis pertama. Vaksin diberikan secara intramuskular, atau disuntikkan melalui lengan atas.

Review Teknis Pelaksanaan

Setelah melihat pengumuman hari sebelumnya dari pihak sekolah untuk hadir pada Hari Sabtu, Tanggal 15 Januari 2022. Jam 09.30 W.I.B hingga selesai. Penulis bersama orang tua hadir di tempat penyelengga pada tanggal tersebut jam 09.31 W.I.B. 

1. Parkir
Setelah turun dari kendaraan disambut oleh seorang Bapak-bapak dan tentu telah ditugaskan oleh pihak penyelenggara, Untuk menjaga kendaraan diarea pinggir jalan yang bertujuan untuk memberi rasa aman dari segi kendaraan. Penulis tentu memberi apresiasi kepada Bapak tersebut BAIK.

2. Berkerumun
Masuk di pintu gerbang lokasi penyelenggara yang penulis lihat adalah banyak aktivitas berkerumun ada yang duduk bersandingan, berjejer tanpa menghiraukan jarak antara tamu satu dengan yang lainnya hingga panitia. Tanpa adanya suara pengeras atau pengarahan yang memberikan informasi "mari jaga jarak atau social distancing, cuci tangan dan lain sebagainya / tetap ikuti protokol kesehatan"

3.  Tidak ada pemandu berbentuk tulisan maupun orang
Setelah sampai di titik lokasi, tentu kebingungan dan orang tua penulis bertanya ke salah satu penyelenggara tentu diketahui berdasarkan warna/corak baju yang dikenakan. Setelah bertanya tentu diarahkan ke operator penyelenggara dan kami mendekati operator tersebut, kemudian salah satu penyelenggara memberikan formulir.

4. Formulir
Setelah diberikan formulir pendaftaran kami fokus mencari tempat duduk yang memenuhi kriteria social distancing jarak antara tamu satu dengan lainnya. Formulir kami tidak tahu siapa yang sudah mengisikan Nama, Tgl. Lahir, NIK (Nomor Induk Kependudukan), dan alamat. Setelah orang tua penulis teliti, ada penulisan yang kurang sesuai yakni di bagian penulisan alamat.

Menurut informasi dari sistem https://www.pedulilindungi.id jika input data dari yang bersangkutan untuk di vaksin tentu harus mempunyai NIK (Nomor Induk Kependudukan) yang sudah terdaftar di Dukcapil / database Kemendagri.

5. Operator
Mekanisme pendaftaran, setelah menunggu beberapa jam nama penulis dipanggil untuk menghadap operator. Setelah penulis duduk dan orang tua disamping, orang tua penulis meralat tentang alamat yang sudah terisi sebelumnya dan ternyata salah atau tidak sesuai alamat pada KIA (Kartu Identitas Anak). Yang jadi pertanyaan orang tua penulis, kenapa sudah terisi sendiri sebelumnya padahal mekanisme pengisian pada sistem https://www.pedulilindungi.id harus sesua yang tertera di identitas. Bukan malah NIK sesuai alamat KK namun pengisian alamat di isi alamat domisili terdekat didaerah tempat sekolah / vaksin. 

Operator dan rekan disampingnya sambil tertawa kemudian bertanya "Maaf pak domisili bapak disini dimana" dan orang tua penulis menjawab "Silahkan sesuaikan KTP saya atau KIA penulis" sebenarnya orang tua penulis mekanismenya untuk input di aplikasi atau sistem pedulilindungi harus sesuai berkas identitas sudah mengetahuinya, karena kedua orang tua penulis sudah menginput dan telah malaksanakan vasksin dosis ke 2 (dua).

Tentu pernyataan ini diperkuat tentang adanya berkas yang harus dibawa untuk ditunjukkan ke penyelenggara yakni KIA atau KK (salah satu saja yang ditunjukkan). Itu sudah cukup untuk aturan yang segaris dari pusat hingga daerah. Operator dan rekannya hanya cukup input berkas yang sudah ditentukan sebelumnya tidak perlu bertanya domisli hingga menertawai.

Penulis tentu mempunyai tujuan tersendiri untuk memilih tempat bersekolah, jika belum mengetahui tujuan kami silahkan baca di https://www.intanpermatasari.com/2021/06/profile.html
Bagaimana jika penulis nanti menempuh pendidikan di UGM apakah penulis wajib mempunyai rumah di sekitaran UGM dan hingga anda menertawai kami mengharuskan punya rumah di sekitaran UGM? Jawabannya itu tidak wajib. 

Jika hidup anda masih bersandar dari orang tua hingga rumah dibagi dua, terus apalagi harta pemberian orang tua, sampai sekolah anda hanya sekitaran rumah tentu melihat kegigihan seorang anak untuk mencari sekolah terbaik mungkin anda melihatnya aneh. Jadi secara kemandirian tertinggal jauh oleh penulis yang masih kelas 1 SD. Jadi bagaimana, apakah perlu membaca biografi orang-orang besar / hebat dinegeri ini mayoritas bersekolah nomor 1 bukan.

6. Proses Pemberian Vaksin Dan Pengecekan Tensi Darah
Setelah sampai dimeja petugas penulis dan orang tua penulis menghadap petugas dan sambil berbincang ala kadarnya, yang sebelumnya tidak ada tahapan pengecekan suhu kecuali tensi. Petugas memberi sebuah kata yang menengkan untuk penulis dan penulis diberikan suntikan vaksin.

7. Proses menunggu setelah Vaksin
Setelah disuntik vaksin, penulis mencari tempat yang sesuai kriteria social distancing atau jaga jarak, salah satu penyelenggara memberikan kursi dan mengajak "Ayo ke sini deket temene" padahal disitu terjadi kerumunan dan  cara duduknya tidak memenuhi kriteria social distancing. Orang tua penulis menjawab "Iya Bu, disini aja biar agak jauh dikit". Jadi bagaimana? apakah anda penyelenggara tapi lupa akan PROKES? Untuk arti kata sosial orang tua penulis mengartikan peduli sesama, bukan ngrumpi bersama. Jika ada yang terkena gejala apakah yakin mau disalahkan bersama dan mau menerima hukumannya?

Ucapan terima kasih kepada pihak penyelenggara dan pemerintah setempat yang telah ikut berpartisipasi mensuskseskan pemerintah pusat untuk vaskinasi covid-19 ini untuk Anak usia 6 - 11 tahun. Tidak ada garis pemisah antara penerima vaksin antara penduduk setempat maupun penduduk luar. Artikel ini dibuat penulis sesuai cerita apa adanya sesuai yang di alami, didengar, dilihat dan dirasakan. Dan semoga menjadi instropeksi lebih baik lagi ke depannya!
Next
This is the most recent post.
Previous
Posting Lama
 
IntanPermatasari.com © 2021. All Rights Reserved | Email: Cs@IntanPermatasari.com
Top